Sebuah pertanyaan saya lontarkan kepada Anda semua, yang membaca tulisan ini. Apa yang ada di pikiran Anda ketika mendengar KKN atau Kuliah Kerja Nyata? Hm.. Mungkin ada yang berpendapat pengaplikasian teori-teori perkuliahan yang telah didapat di kampus. Atau juga saatnya hidup di tempat yang ‘jauh’ dari peradaban kota. Atau juga pengabdian kepada masyarakat. Oke, semua itu benar adanya. Secara umum, mungkin itu yang dapat disimpulkan dari kegiatan serupa yang saya alami sebulan kemarin.
Dimulai dari bulan September untuk mendaftar secara online di situs kampus, saya memilih Desa Cisalak, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Jawa Barat bersama dengan 21 orang lainnya. 11 laki-laki dan 11 perempuan. Sejujurnya saya ngga tahu menahu tentang tempat tujuan KKN itu. Karena sistem pendaftarannya online, jadi harus berebut memilih tempat yang diinginkan. Saya? Selow aja lah hehe. Tempat dimanapun adanya, saya terima aja. Oh ya, sebenarnya ada satu syarat yang dijadikan pertimbangan saat memilih tempat, yaitu: daerah wisata di sekitar tempat KKN. Hehehe. Yaa mahasiswa juga jenis manusia yang ngga melulu idealis. Satu bulan kiranya bisa beberapa kali kan ya mengunjungi tempat wisata, sekaligus bisa jadi promosi mengenai tempat wisata tersebut. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, Bung!
Kemudian, anggaplah sampai kepada hari-hari KKN. Sedari awal, kami para mahasiswa dibekali petuah untuk bersama belajar dengan masyarakat. Mahasiswa sejatinya menjadi fasilitator dan masyarakat desalah yang menjadi pelaku dari program-program kerja para mahasiswa. Itu yang diharapkan awalnya. Pada kenyataannya, di minggu pertama, kami dihadapkan pada kebingungan “Kami harus apa?”. Akhirnya berbekal tanya sana sini, kesoktahuan yang amat sangat namun berbobot, kami membagi tugas untuk survey keadaan desa. Dimulai dengan mengetahui struktur pemerintahan desa, kelembagaan yang ada di desa, masalah sosial, pendidikan, ekonomi, dan semacamnya.


Di minggu kedua akhir, segala data mengenai seluk beluk desa pun sekitar 80% didapat. Mulailah kepada tahap selanjutnya yaitu pembuatan program kerja yang sesuai dengan permasalahan yang ada di desa tersebut. Sebenarnya, permasalahan yang cukup mencolok adalah masalah kesehatan lingkungan seperti buang sampah sembarangan. Masalah buang sampah sembarangan itu masalah klasik yang sedari kapan tahun dilakukan di mana saja; terlihat mikro, sepele, ‘ah barang secuil ini dibuang, tak akan berdampak apa-apa’; pelaksanaannya makro dilakukan oleh segala jenjang usia, tingkat sosial, pendidikan, dan manapun; serta penyelesaiannya butuh aplikasi interdisiplin ilmu, mungkin saja ada sumbangan ilmu teknik untuk mengelola sampah, ilmu psikologi untuk melihat intensi orang dalam membuang sampah dan proses mental lainnya, ilmu hukum untuk memberikan efek jera, ilmu ekonomi yang secara tidak langsung sampah berdampak pada perputaran ekonomi daerah, nasional, internasional, siapa tahu? Dan sekian banyak ilmu lagi yang bisa digabung untuk menyelesaikannya.
Selain itu, masalah yang muncul yaitu buang air sembarangan. Sebenarnya, daerah yang saya tempati ini sudah terbilang cukup modern. Namun, masalah seperti buang air besar sembarangan masih bisa ditemui, terutama yang berada di Dusun 2. Atau banyak warga yang sudah membuat kloset di dalam kamar mandi rumahnya, tetapi saluran pembuangannya dialirkan ke sungai yang tentunya akan membuat sungai tersebut menjadi tercemar. Sebagai gambaran, desa ini memiliki 2 dusun, dengan letak dusun 1 yang berada di tengah kecamatan, dan dusun 2 yang berada jauh dan lebih terkesan ‘desa’ dibandingkan dusun 2. Rata-rata mata pencaharian warga desa di masing-masing dusun pun berbeda. Dusun 1 lebih banyak yang memiliki mata pencahariaan sebagai Pegawai Negeri Sipil, sedangkan pada dusun 2 sebagian besar menjadi petani. Kembali kepada masalah buang air besar sembarangan, ternyata Sang Kepala Desa sudah memiliki rencana untuk mengatasi hal tersebut. Desa Cisalak ini nyatanya sedang mengikuti beberapa sosialisasi pada warga desanya untuk kemudian menjadi Desa Peradaban. Terdapat beberapa langkah untuk mencapainya, diantaranya adalah terbebasnya desa dari buang air besar sembarangan. Langkah-langkah lainnya misalnya rutinitas mencuci tangan, pengelolaan sampah, penyediaan air bersih, dan lainnya. Di sini, kami sebagai mahasiswa mungkin terlihat “gabut” hanya dengan membantu rencana sang Kepala Desa, tapi kami pikir, acara bagus seperti ini memang sudah seharusnya didukung. Terima kasih atas Pak Kepala Desa atas ide briliannya. Kami akhirnya berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan mulai dari membantu membuat plang-plang mengenai bebas buang air besar bersama warga, juga membantu menyelenggarakan acara Deklarasi ODF atau Open Defecation Free.

Pada acara ini dibagikan kepada warga desa mengenai pentingnya buang air besar pada tempatnya, dilihat dari aspek kesehatan. Setelah pendeklarasian ini, rencananya akan dibuat septic tank yang lebih layak untuk keseluruhan desa sehingga tak ada lagi air sungai yang tercemar. Besar harapan Kepala Desa dan kami tentunya nantinya desa ini menjadi desa yang sadar akan bahaya buang air besar sembarangan sehingga kehidupan mereka akan menjadi lebih baik. Sederhana memang, tapi penting bukan?
Oh ya, KKN ini juga sepertinya tidak terlepas dari yang namanya penyuluhan. Hampir di semua kesempatan KKN, mahasiswa memanfaatkan program kerja yang akan dilakukan dengan mengadakan suatu penyuluhan. Temanya bisa bermacam-macam, ada yang berupa masalah kesehatan, ekonomi, psikologi, pertanian, dan sebagainya. Penyuluhan ini juga dilakukan berdasarkan perumusan masalah yang ada dalam desa tersebut. Di desa ini kami menemukan banyaknya warga desa yang memiliki usaha pertanian singkong dan pisang, serta peternakan ayam maupun sapi. Dari sinilah kami melihat adanya potensi pengolahan limbah singkong dan pisang untuk pakan ternak. Tadinya kami berpikir bahwa hal tersebut bisa diatasi oleh mahasiswa yang berasal dari Fakultas Pertanian maupun Fakultas Teknologi Industri Pertanian. Namun nyatanya, bukan ilmu mereka, tetapi Fakultas Peternakan yang tidak ada satupun dari anggota kelompok kami yang berasal dari fakultas tersebut. Yah, tetapi pertolongan selalu datang di saat yang tepat. Kami pun mendapatkan pembicara yang berasal dari Fakultas Peternakan yang mana adalah Pembantu Dekan 3 langsung! Segeralah acara tersebut diadakan.

Harapan kami dari mahasiswa tentunya di waktu yang akan datang tidak ada lagi limbah pertanian yang terbuang percuma. Sehingga tingkat perekonomian di desa ini juga ikut terbantu dengan adanya hal tersebut.
Yap. Itu mungkin cukup untuk menjadi bahasan awal mengenai perjalanan KKN saya. Aspek lainnya akan saya jelaskan selanjutnya nanti, insya Allah :)
Adios!