Okay, ini sudah lebih dari setengah jam mencoba untuk membuat kata-kata puitis. Mencoba mengalahkan kosakatamu yang begitu banyak dan tata bahasamu yang begitu rapi.
Kalau kata orang “Tulis saja apa yang ada di kepalamu, biarkan kata-kata menari-nari di ujung jarimu”. Namun sepertinya tulisan itu cuma mentok dalam susunan bahasa yang biasa saja. Flat, tanpa imbuhan dan ukiran manis di muka, tengah, maupun belakang.
Atau mungkin, kognisi ini sudah terlalu lama berkutat dengan pemakaian otak hemisfer kiri, terlalu banyak analisis kasus, berfikir kaku, dan yang kanan lama kelamaan jadi aus, tak pernah dipakai *pengatribusian eksternal. kebiasaan*. Atau terlalu jarangnya menulis dengan hati. Menulis dengan tangan itu penting, tapi menulis dengan hati, bukan, maksudnya Qalbu dalam bahasa lain, saya rasa jauh lebih penting. Jadilah itu bukan sekedar tulisan belaka. Tapi tulisan yang bisa membuat yang membacanya merasakan apa yang penulis rasakan, terbawa, dan hilang sementara menuju dunia virtualnya.
Ah, sulit lah. Tapi, kau tahu, saya bukan orang yang mudah kalah dengan hal ini. Akan saya coba lain waktu untuk merangkainya. Adios! :p
** Tambahan: Omong-omong, mungkin ini bisa jadi sekilas pengantar untuk tulisan berikutnya :D
“Jika Allah menghendaki untuk bertemu lagi di saat yang tepat, apa lagi yang bisa dilakukan? Setidaknya aku sangat bersyukur dengan segala jalanNya, caraNya, berbagai kelikuan yang ditempuh, segala pelajaran yang diambil, anggaplah sebagai pendewasaan mengarah pada tahap yang selanjutnya. Apa kau juga begitu?”
**tambahan lagi: Semangat buat segala pengerjaan tugas dan ujian yang menghadang! Semoga segalanya dimudahkan :)