Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun
Hari ini, salah seorang keluarga Psikologi Unpad angkatan 2009 telah pulang ke rahmatullah. Ngga ada yang menyangka kalau ia akan pulang secepat itu. Saya sempat lihat beberapa saat sebelum ia meninggal, ia sempat menuliskan tweetnya. Setelah itu, ia mengalami kecelakaan, tak bisa tertolong, sudah, cepat sekali.
Saya jadi ingat waktu tiga tahun yang lalu juga keluarga kami, Psikologi Unpad angkatan 2008, Adit, juga mengalami kecelakaan motor. Bedanya ia sempat dirawat di rumah sakit dalam keadaan yang memprihatinkan. Setelah itu, Allah benar-benar memanggilnya ke dalam pangkuanNya.
Jelas, ngga ada yang bisa memperkirakan kapan waktu itu akan datang. Seorang Nabi sekalipun, atau malaikat. Hanya Allah, satu-satunya. Lalu bagaimana dengan persiapan menghadapi saat tersebut?
Saya tidak akan menjelaskan apa saja yang harus dilakukan blablabla karena saya pun masih dan entah sampai kapan juga bisa siap. Hal yang seperti itu ya mau ngga mau harus siap. Mungkin beberapa kali saya pernah merasakan saat-saat tertentu saya benar-benar dihadapkan pada imaji saat saya menghembuskan nafas terakhir, atau saya merasakan bermalam-malam di dalam kuburan seorang diri, berbungkus kain kafan, atau di saat saya berada di padang Mahsyar, menunggu dengan sekian banyak orang, dengan posisi matahari yang hanya sejengkal dari kepala. Saya sering merinding, ketakutan setengah mati hingga tidak bisa tidur semalaman. Apa yang akan saya lakukan, rasakan nanti?
“Hampir tiba dimana umat-umat saling memanggil untuk melawan kalian sebagaimana orang-orang saling memanggil untuk menyantap hidangannya. Salah seorang bertanya: apakah karena sedikitnya kami ketika itu? Rasul menjwab: bahkan kalian pada hari itu banyak akan tetapi kalian laksana buih dilautan dan sungguh Allah mencabut ketakutan dan kegentaran terhadap kalian dari dada musuh kalian dan Allah tanamkan di hati kalian al-wahn. Salah seorang bertanya: apakah al-wahn itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: cinta dunia dan membenci kematian” (HR Abu Dawud dan Ahmad).
Untuk mengatasi cinta dunia dan takut mati tersebut, terkadang saya juga “berguyon” dengan kematian. Bukan bermaksud meremehkan atau memain-mainkan, tapi, sudah seharusnyalah tidak ada rasa akan takut mati. Saya lakukan pada ayah saya, berbincang mengenai “jangan meratapi, jangan terlalu sedih ya kalau udah ditinggal” atau ketika ayah saya memberikan seperti pesan terakhir dan saya menanggapi “yah, pa, kalo aku yang duluan gimana?”.
Atau yang belakangan ini saya sering lakukan, setiap saya meminjam atau berhutang ke orang lain, saya suka bilang ini ke orang tersebut:
“Eh, kalo aku udah meninggal duluan, ambil aja ya duitku di dompet. Atau, ambil aja barangnya di kamar”
Yang ini, biarpun maksud saya seratus persen tanpa guyonan alias serius, tetep aja saya dikasih tatapan sinis -__- ampun ampun. Eh, tapi beneran kok, kapan-kapan kalau saya sudah meninggal, dan kalo ada yang merasa dihutangi oleh saya, boleh banget diminta lewat keluarga saya juga gapapa, insya Allah dibayar. Atau ya, selama saya masih ada, karena ingatan saya terbatas, kalau ada yang merasa dihutangi, saya insya Allah akan bayar sekarang. Kayaknya sih sepele, tapi ya namanya hutang kan janji, janji harus ditepati.
Oya, saya juga minta maaf buat yang pernah saya sakiti atau saya jahati. Maaf maaf banget. Anyway, ini kayak ucapan terakhir. Ya, kan ngga ada yang pernah tau kapan umur akan berakhir. Selagi ada waktu, saya ucapkan sekarang saja. Maaf ya teman-teman.