Yuk kita saling bantu :)

Yuk kita saling bantu :)

'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I’ll give my all to you
You’re my end and my beginning
Even when I lose I’m winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you

Root Your Smartphone!

Berawal dari gereget karena handphone yang ngelag, loading lama, rasanya pengen dibanting dan hancur dari atas monas tapi ngga tega, akhirnya saya tega-tegain untuk nge-root si telepon yang katanya smart itu.

Root? apa itu?

Android rooting is the process of allowing users of smartphones, tablets, and other devices running the Android mobile operating system to attain privileged control (known as “root access”) within Android’s sub-system. (http://en.wikipedia.org/wiki/Android_rooting)

Root ini sering dilakukan ketika sistem android tersebut terbatas, dan si penggunanya ingian menambahkan atau mengganti sistem yang ada. Dengan kata lain, sistem yang ada di perangkat pada akhirnya sudah tidak asli lagi. Yak sama kayak kalau beli PC dengan OS nya Windows asli. Setelah bertahun-tahun dipakai dan akhirnya leleet beet, akhirnya instal ulang, jreng, bergantilah jadi OS windows terbaru versi abang-abang tukang servis komputer *meuni curcol*.

Dengan me-root sistem android yang ada di perangkat, kita bisa tuh men-downgrade atau meng-upgrade si sistem dengan menginstal custom ROM. Semisal, Samsung Galaxy W milik saya, ROM defaultnya adalah Gingerbread. Karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki Gingerbread, dan tidak ada official updated to ICS apalagi Jelly Bean, maka saya putuskan untuk meroot saja setelah masa garansi habis. Mengapa setelah masa garansi habis? Karena dengan me-root smartphone, berarti kita telah “merusak” sistem default yang ada. Jika terjadi kerusakan atau apapun pada sistem smartphone, tentunya pihak Samsung tak mau terima klaim biarpun masa garansi masih berlaku.

Yes, saya menginstal custom ROM (CusROM) CyanogenMod (CM) 10.1 yang setara dengan Android Jelly Bean, lalu menginstal lagi Cusrom CM 11 unofficial yang setara dengan Android KitKat.

Apa itu CyanogenMod?

CyanogenMod (pronounced /saɪ.’æn.oʊ.dʒɛn.mɒd/) is an enhanced open source firmware distribution for smartphones and tablet computers based on the Android mobile operating system. It offers features and options not found in the official firmware distributed by vendors of these devices. (http://wiki.cyanogenmod.org/w/About)

Salah satu developer yang rajin dan oke banget itu adalah Arco68 (Arne Coucheron). Oh ya, kita juga bisa lho diskusi dan lihat apdetan ROM yang ada di http://forum.xda-developers.com/

The site’s main purpose is discussion, troubleshooting and development for Android, Windows Phone, WebOS, Ubuntu Touch, Firefox OS and Bada phones. The site also offers Windows Mobile and Android users general information about devices, ROM upgrades, technical support, Q&A, and reviews of device applications and accessories. (http://en.wikipedia.org/wiki/XDA_Developers)

Sebuah kalimat wajib yang harus ditanamkan saat me-root adalah DWYOR atau “Do With Your Own Risk”. Yes, kita ga tau kemungkinan terburuk saat mengutak-atik sistem itu seperti apa. Bisa saja terjadi soft brick, yaitu saat telepon stuck di bootloop, hanya muncul logo ituuu aja, ngga lanjut-lanjut. Cara benerinnya bisa dengan Flash ROM yaitu menginstal ulang ROM dengan ROM defaultnya. Atau bisa aja terjadi hard brick, telepon sama sekali ngga mau nyala. Kalau udah begini, silakan benerin sendiri atau searching di internet haha. Yang parah adalah ketika si henpon udah ngga bisa diapa-apain, yah dadah-dadah deh, beli hape baru.
Tapi sebenernya kerusakan-kerusakan itu ngga perlu terjadi kalau kita membaca dan mengikuti tutorial yang ada secara seksama. Seru loh seru! (kalau berhasil haha). Selamat mencoba ya bagi yang berminat!

Saya dapet banyak banget masukan dari sini nih:
http://fachri-base.blogspot.com/2013/06/upgrade-galaxy-w-ics-jb.html
https://www.facebook.com/groups/galwondercommunity/

Anyway, sebenernya saya juga masih super nubi kalau ngebahas beginian bahhaha. Saya coba share apa yang saya tau aja sih. Silakan dicari dan explore sendiri di internet kalau mau tau lebih lanjut. Banyak baca, banyak cari!

"Di saat kita terpisah oleh jarak, terpisah tidak bisa bertemu
Aku memohon kepada Allah untuk menjaga belahan jiwaku dengan doa yang tulus dari hati.
Mengapa doa harus tulus dari hati?
Karena saat mata tidak mampu menatap
Lidah tak dapat berucap
Telinga yang tidak mampu menangkap pesan
Hidung yang tak mampu merasakan hawa kehadiran
Dan jemari yang tidak dapat merasakan hangatnya sentuhan,
Tetapi hati mampu merasakan setiap keadaan orang yang ada dalam doa dan pikiran.”

Itu seperbagian dari surat yang diberikan si abang Arief ke saya. Ceritanya ini sebagai surat balasan atas surat yang pernah saya berikan sebelumnya, dan sebagai pengobat rindu saat menunggu pesawat selama 3 jam.

Mau kemana? Ah ya. I’m heading to Kuantan, Malaysia, accompanying si abang for his work there (baca: GUE GA BISA DITINGGAL BANGET. BISA NANGIS DARAH SENDIRIAN DI RUMAH NANTI HUHU). Karena satu hal tertentu, akhirnya kami berpisah di penerbangan pertama, yaitu Jakarta-Kuala Lumpur. Dan saat tulisan ini dibuat, saya sedang menunggu tinggal 1 jam lagi sebelum doi sampai di bandara.

Yeh. Tapi bukan itu intinya. Tapi dengan baca suratnya si abang, bukannya jadi pengobat rindu, MALAH JADI NANGIS BANJIIR HUEEEE.

Dua bulan ini mulai terasa lah bagaimana naik turunnya suatu hubungan. Meskipun grafik turunnya cuma bertahan sebentar (alhamdulillah!), lalu melesat naik lagi. Semoga selalu seperti ini aamiin.

Kami masih punya mimpi jauh ke depan. Rencana baru tertuang di atas kertas dan lisan. Ada beberapa yang dalam proses. Meskipun saya ngga tau akan seperti apa kehidupan nanti, selama dua orang saling mendukung satu sama lain, insyaAllah we go for it. Bismillah.

Abaaaang cepatlah dataaang~. Kaki ane udah kesemutan nunggu ente gan!


Sepang, 8 Juni 2014 17:44

Tags: dailylife

Kontradiktif

Well, twenty something is really something, as being an adultdont-wanna-mention-it-yet-im-still-a-teenager-you-wish-haha–. Kesibukan kerja kantoran dari hari senin sampai jumat, bangun pagi-pagi, berangkat, berkutat dengan kerjaan, di depan layar komputer, bertemu user sana sini, klien sana sini, lalu pulang dengan lelah, sampai pun langsung ambruk, memakai istilah numpang tidur di rumah ya memang itulah yang terjadi. Lalu esok pagi kembali terulang seperti itu lagi. Dan sampailah pada hari sabtu, hurray! Welcoming You, hey Weekend! Pilihannya ada dua: mau istirahat total di rumah, atau melanglang buana di luaran senang-senang dengan teman. Capek sih, tapi setidaknya setelah bertemu, pikiran jadi makin segar karena obrolan-obrolan ringan bikin ngakak.

Dan itulah yang saya lakukan kemarin.
Setelah seharian muter-muter di Islamic Book Fair –dan lagi-lagi saya butuh balik lagi kesana untuk beli buku yang gajadi saya beli kemarin–, akhirnya saya yang udah lelah tapi harus tetep ikutan, bareng Risya, Kiki, Asti, Mely, dan Noy, ngumpul di Buaran Plaza. Yes, jadi, pertemuan kemarin itu adalah yang saya tunggu-tunggu sedari jaman lebaran kodok. Nunggunya lama, ngaturnya juga susahnya setengah idup. Maklum lah, domisili tinggal udah jauh satu sama lain. Kiki di Padang masih dengan urusan coass-nya tinggal menunggu ujian kelulusan di bulan Mei, Asti di Purwokerto, coass-nya tinggal satu stase lalu selesailah tinggal ujian kelulusan juga. Noy, si nona dosen yang juga lagi melanjutkan S2 nya di Semarang. Risya, Mely, and I, we’re both together in Jakarta as buruh kantoran. Risya di perusahaan market research, Mely sebagai MT di perusahan produsen makanan, dan saya seorang rekruter di perusahaan retail. Ada di satu kota pun belum tentu bisa ikut ngumpul juga karena jadwal sehari-hari yang padatnya luar biasa –as I said before–.

Lalu mengalirlah perbincangan ala twenty something yang ngga jauh-jauh dari urusan jodoh, menikah, kerjaan, dan kehidupan lainnya. Terkadang bosen sih ya membahas yang begini-beginian. Tapi ya penting juga sih sekedar membahas update-an dari sahabat sendiri seperti apa kehidupannya sekarang.

Itu secuplikan draf blog tiga bulan lalu yang ngga sempet saya posting. Sempet kelupaan dan pas dibaca lagi, ya ampun, segitu cepatnya ya waktu berjalan. Tiga bulan lalu saya masih jadi pekerja kantoran yang bolak balik Jakarta-Tangerang berdesak-desakan di Commuter Line setiap hari. Tiga bulan lalu tensi darah drop hampir setiap hari karena persiapan ini itu pernikahan. Tiga bulan lalu masih bolak-balik menclak-menclok dari satu angkutan ke angkutan lain sendiri, berkeliling Jakarta sendiri.

Sekarang, saya menikmati kelonggaran waktu di rumah. Bangun tidur masih bisa ngulet sana sini. Karena masih tinggal sama orangtua, kerjaan juga ngga begitu banyak. Palingan nyiapin bekel makan siang suami, beres-beres kamar, sesekali nyetrika, beres-beres lemari baju, dan bikin sambel (karena kalau masak, biasanya diprotes “Cepet sih, Pit motongnya! Nyucinya! Itu jangan lama-lama digorengnya nanti gosong!” -_- alamak, ane nyerah gan).

Sekarang juga udah hampir kemana-mana ngga pernah naik angkutan umum. Selalu dianter suami tercintah dunia akherat muahaha. Ya kalo sesekali ke Alfamidi atau ke warung sendiri lah ya, Tapi ngga enaknya jadi sering mager kalau mau kemana-mana. Sering di entar-entarin yang pada akhirnya ngga jadiii sodara sodara! *apa emang dasar guenya aja yang muales dari dulu*

Hampir dua bulan ini lho…

Hm..

Ini perjalanan pertama kami!

Sungguhlah. Ngga akan pernah menyesal bisa mendatangi kepulauan di Belitung. Pantainya pasir putih, air lautnya jernih, bebas sampah (ada sih beberapa), meskipun panas menyengatnya ngga nahan dan bikin kulit gosong, tapi sungguh, kecee!

Ini nih beberapa tempat yang bisa dikunjungi di Belitung:

  • Tanjungpandan : Kota terbesar di Belitung, pusat ekonomi dan pemerintahan kabupaten Belitung, terkenal dengan wisata kuliner dan suasana bersahabat di keramaian pantai Tanjung Pendam di malam hari.
  • Tanjung Tinggi : di sini tempat berlangsungnya syuting film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi dengan bebatuan granit raksasa tersebar di sepanjang pantai dan lepas pantai dengan air laut yang jernih dan tenang.
  • Tanjung Kelayang : Semenanjung dikelilingi pulau-pulau kecil dan batu-batu granit di ujung semenanjung dan di lepas pantai berpasir putih membentuk lengkungan sepanjang sisi semenanjung. Terdapat Batu Garuda.
  • Manggar : Kota terbesar kedua, ibu kota kabupaten Belitung Timur terletak di pesisir timur Belitung. Dulu Manggar adalah pusat tambang timah terbesar di Belitung, kini Manggar adalah kota kecil dengan berbagai objek wisata yang menarik, kota di mana film Sang Pemimpi dibuat. Manggar terkenal dengan sebutan kota dengan 1001 warung kopi. Ada puluhan warung kopi yang dijadikan tempat bersosialisasi bagi warga kota Manggar dan sekitarnya. Manggar terletak 90 km di timur Tanjungpandan, 1,5 jam dengan mobil.
  • Pulau Pasir : Sebuah pulau yang hanya terdiri atas pasir dengan ukuran sekitar 500 m2, hanya ada pada saat air surut. Dikelilingi pulau-pulau kecil dan batu granit di sekelilingnya. Pada saat air pasang, pulai ini hampir selirihnya tertutup air laut. Di sini kita bisa menemukan banyak bintang laut merah muda dengan ukuran jumbo! (Sebut saja Patrick! haha)
  • Pulau Burung : Pulau eksotis dengan batu besar berbentuk kepala burung di wilayah kampung nelayan Tanjung Binga.
  • Pulau Lengkuas : Pulau kecil dikelilingi 2 pulau kecil lainnya berbatu granit dan gundukan pasir putih membentuk semenanjung, pulau terluar di utara Belitung, ditandai dengan Mercusuar setinggi 18 lantai / 60 meter dibangun pada tahun 1882. Di sini kita bisa menikmati gradasi warna laut dengan kombinasi objek pulau, batu granit, dan perahu dari atas mercusuar. Kita juga bisa snorkeling hanya beberapa meter dari lepas pantai dengan pemandangan bunga karang hidup.
  • Batu Berlayar : Sebuah pulau pasir, dimana tersusun batu-batu granit besar di atas pulau dan perairan di sekitarnya. Dinamakan Batu Berlayar karena terdapat batu berdiri tegak memanjang seorang-olah seperti layar. Perlu waktu 10 menit dengan boat dari Tanjung Kelayang untuk ke tempat ini.
  • Museum Kata Andrea Hirata : Disinilah katanya dulu tempat tinggal sang penulis buku Laskar Pelangi. Quotation dari karya-karya Andrea Hirata seperti Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, dan Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas terpampang manis di dinding-dinding rumah. Belum lagi beberapa buku Laskar Pelangi yang diterjemahkan ke sejumlah bahasa. Bikin mupeng!

Dan masih ada lagi beberapa tempat yang belum dituliskan. Silakan mengeksplor sendiri kalau kesana mehehehe. Selamat jalan-jalan! :D

*note: nyomot info dari bookletnya belitungisland.com

"Love is silly. Like, really. She forgives you after your stupid mistake. After you hurt her so much. After you’re being judgmental on her. After you mistreated her so bad. She don’t give up on you even when you think of yourself as some piece of crap, unworthy of anything good. You are broken as hell, yet she still accepts you. There is no logic in that. Nothing at all. Love, be it from a lover, a mother, or a teacher, is the most confusing thing in the world. Like, seriously."

— Harun Suaidi Isnaini

Tags: quote

"…hobi (baru) kami travelling bareng, dan… selfie." —ARS

*pardon our faces*
*pengennya sih ngepost ini biar kangennya ilang. tapi malah tambah kangen. alamaak. kakaknyaaa pulang kaaak pulaaang woooy*

Menikah!

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Ba’da tahmid dan tasbih.


Finally, I’m a married woman, guys. Haha.

Kenapaaa? Ada apaa? Kok tiba-tiba udah nikah aje luu?
Prosesnya cepat, menurut saya cepat. Berulang kali saya berusaha menyesuaikan, mengganti, mengubah rencana hidup beberapa tahun ke depan dalam waktu yang sangat singkat. Like a flash, like a bouraq (lebay sih kalau yang ini). Sungguh, manusia hanya bisa merencanakan, dan Allah yang punya keputusan pastinya. Tapi tak ada penyesalan untuk bisa merasakan hal itu. Alhamdulillah.

Saya bertemu dengannya di salah satu lembaga nonprofit bernama Syamsi Dhuha Foundation (SDF) di bulan Maret 2013. Waktu itu saya datang ke sana karena menghadiri ajakan teman sekampus, sebut saja A, yang jadi volunteer di lembaga tersebut. Katanya sih mereka lagi mau mengadakan satu acara besar tentang lupus, dan saya diminta untuk ikut bantu membuat poster informasi di acara tersebut. Singkat cerita, saya bekerja tidak sendirian, tapi ada 4 orang lain di satu tim saya, yaitu tim pameran. Salah satunya si akhi ini *malu*.

For the first time, saya yang memang orangnya super cuek, ya biasa aja. Kenalan sekilas, lalu lanjut mengerjakan tugas yang lagi asik saya pantengin di depan laptop. Saya ngga tahu kalau ternyata pertemuan tersebut menimbulkan rasa dari mata ke hati *geer lu!*

Sekitar 1 minggu setelah kenalan super singkat, kira-kira 5 detik lah ya, saya dapet kabar menghebohkan bin shocking sodaa. Si temen saya A itu menanyakan kepada saya tentang kesediaan bertaaruf. Katanya sih mau ada yang ngajak saya taaruf. Ah men! Di saat kepala dan hati saat itu yang kalut marut tak ada yang lain selain skripsi tercinta yang ngga kelar-kelar, akhirnya saya menolak bertaaruf saat itu juga. Saya juga masih punya banyak pertimbangan untuk melanjutkan studi dan karir terlebih dahulu. Saya juga ngga mau menggantungkan seseorang karena terlalu lama menjawab tawarannya. Digantung ga enak cyin! Pada saat itu saya juga belum tau siapa orang yang mengajak saya bertaaruf. Ini orang darimana asalnya bisa ujug-ujug kenal saya, ini orang kenapa juga bisa berani langsung mau taaruf sama saya, ini orang siapa deh.

Yaa meskipun menolak bertaaruf, diam-diam saya juga penasaran setengah idup. Dan satu-satunya orang yang saya “curigai” sebagai oknumnya adalah si akhi yang berkenalan waktu itu. Tapi teteup sih, skripsi mengalihkan duniaku (waktu itu hahaha).

Nah, lalu waktu berjalan. Sampai acara besar SDF hampir tiba, 3 hari saya habiskan di kantor dan tempat acara. Pastinya deh ya saya ketemu terus deh ni sama orang-orang di 1 tim kerja pameran, which means ketemu si akhi. Setelah dilihat-lihat gerak-geriknya, tingkah lakunya *eh bukan maksudnya merhatiin dari atas kepala sampe kaki berlama-lama ya -_-*, saya pikir akhi ini oke juga. Santun, sholatnya tepat waktu dan di masjid, dapat diandalkan, siap sedia jika minta bantuan, makannya juga teratur *lah*. Tapi saya tetap berusaha untuk jaga hati, jangaaan sampe ada setan diem-diem merasuk ke jiwa raga *HOAAH lalu jadi jin tomang* *apasi* *lalu si akhi ilfil liat gue begini*

Oke lalu acara selesai.

Setelah itu mungkin interaksi kami jadi lebih sering dari sebelumnya. Saya sih menganggapnya sebagai senior yang lumayan tau banyak soal SDF daripada saya. Dan berhubung si akhi ini ketua tim saya, dan saya sering ngga bisa dateng rapat besar, jadi saya sering tanya ke grup WA tim pameran dan yang sering bales ya si akhi.

Waktu itu pula, si akhi lagi pasang foto avatar doi di gunung. Karena saya orangnya gampang terenyuh dengan gunung dan pemandangan, jadi saya iseng tanya-tanya soal latar belakang si foto. Ternyata si akhi anak gunung! Ngga terlalu sih, tapi setidaknya doi suka jalan-jalan! Lalu mulai runtuhlah satu persatu hati saya haha.

Dari obrolan yang ada saya melihatnya si akhi adalah orang yang humoris dan asik banget diajak diskusi ini itu. Semua nyambung. Makin runtuhlah saya.

Mungkin di situ momen “klik” nya. Saya bisa dibilang sangat jaraaaaaaang sekali bisa secepat itu bisa klik dengan orang lain, apalagi lawan jenis. Biasanya kalau saya merasa ngga cocok dengan obrolan yang ada, saya tinggalin aja gitu, sampai orangnya bosen sendiri. Hahaha. Tapi yang ini ngga. Membahas berbagai topik rasanya ngga ada bosennya. Duh. Ngeri juga sih sebenernya. Saya takut ngga bisa jaga hati dan mungkin malah jadi negatif. Akhirnya saya berusaha sekali untuk berkomunikasi di saat yang penting.

And the day was came.
Terhitung sejak 3 bulan bertemu, akhirnya si akhi menawarkan kembali untuk bertaaruf dengan saya. Kali ini mediatornya berbeda, salah satu ibu yang ada di tim kami. Awalnya si ibu tidak memberitahu kepada saya siapa orang yang meminta saya untuk bertaaruf. Dan setelah saya mengiyakan untuk bertaaruf, beliau sanpaikan siapa orang tersebut. Benarlah si akhi ini.

Sejujurnya setelah pertama kali mendapat tawaran taaruf, saya jadi berpikir banyak tentang menikah. Pertanyaan paling eksis muncul adalah: “Sudah siapkah saya untuk menikah?”. Lalu apa saya sudah berbuat maksimal untuk orangtua saya? karena selanjutnya kewajiban saya paling atas setelah Allah dan RasulNya berpindah ke suami. Bagaimana dengan adik-adik saya nanti? Apa saya sudah siap menjadi istri dan ibu yang baik nanti? Apa saya sudah siap dengan segala kehidupan manis pahit pernikahan nanti? Dan sederet pertanyaan lainnya.

Memang saat-saat seperti itu paling baik dilaporkan langsung kepada yang Maha Pembolak-balik Hati. Yang Paling Tahu apa isi hati manusia, yang paling baik untuk manusia. Jadilah akhirnya Allah memberikan kemantapan hati untuk siap bertaaruf.

Ohya. Sejujurnya waktu pertama kali mendapatkan tawaran untuk taaruf dengan “curigaan si oknum akhi”, saya sempat mikir berat hati untuk “melepaskan” orang berkualitas oke semacam doi. Mana ada lagi kali lelaki sholeh yang mau ngelamar anak begajulan macem ini, petantang petenteng macem kuli, pikir saya waktu itu gitu hahaaha. Tapi seorang teman pernah berujar, kalau jodoh mah ngga kemana. Dan itu memang pepatah lama yang ngga ada matinye! Buktinya dalam waktu 3 bulan, si akhi masih setia menunggu saya *apa emang ga dapet-dapet calon lain? haha* dan kembali menawarkan pada saya.

Hingga pada bulan November, ia dan keluarganya kemudian datang ke rumah dan secara resmi melamar saya. 

Sekarang sudah terhitung lebih dari 2 minggu kami menikah di tanggal 12 April 2014. Mungkin prosesnya lebih lama dibanding proses taaruf kebanyakan yang dalam 3 bulan sejak bertemu sudah resmi memegang buku nikah. Tapi secara keseluruhan, proses yang kami jalani berjalan dengan sangat mulus. Mungkin beberapa kendala dan hal yang tidak mengenakkan tetap ada, tapi tak begitu mempengaruhi.
Buat saya selama dua minggu menjalani hari-hari sebagai seorang istri, rasanya campur aduk sekali. Saya terbiasa dengan perlakuan over protective dari ayah saya, seperti dihubungi tiap waktu menanyakan dimana saya berada, diperlakukan layaknya anak gadis teristimewa. Yang sekarang, hampir sama, tapi berbeda. Suatu perbedaan yang mungkin sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata, tetapi menyenangkan.

Bocah setengah macho yang terbiasa pergi kemana-mana sendiri dan masa bodoh dengan dirinya ini, sekarang jadi “lemah”. Sulitnya membiasakan diri membuat teh manis atau jahe hangat setiap pagi dan atau ia pulang kantor. Sampai beberapa kali dimarahi mama karena lupa menemani suami makan, sementara saya asik di kamar bermain laptop atau handphone. Beberapa kali diingatkan teman untuk memoles wajah dengan sedikit kosmetik biar ngga terlalu polos. Itu sulit sebenarnya. Saya yang jadi “lemah” karena setiap berjalan beringingan harus digenggam tangannya yang hangat, lalu hati saya berulang kali berdesir lembut. Saya yang jadi “lemah” karena memandang teduh wajahnya terlalu lama. Saya yang jadi “lemah” karena jantung berdegup kencang setiap ia pulang dari bekerja, terlalu rindu, dan kembali malu melihat wajahnya. Saya yang jadi “lemah” setiap kali mendengar alunan surat Al-Mulk yang ia bacakan setiap akan tidur. Dan senyum saya yang jadi selalu merekah setiap melihat ia ada di sisi setiap bangun pagi.

Kalau kata seorang teman, sehabis menikah itu senangnya hanya 1%. 99% nya lagi senaaaaang sekalii. Kalau kata penghulu nikah saya, menikah itu nikmatnya hanya 1%, 99% nya lagi nikmaaaat sekalii. Well, I agree with that.

Teruntuk Tuan Arief Rachman Saputra,
Terima kasih sudah hadir. Sungguh, kasih sayang Allah semoga selalu bersama kita.

image

Tags: nikah!

Meninggalkan Sarang

Bagaimana sih rasanya meninggalkan tempat yang sudah nyaman kita tinggali selama bertahun-tahun? Saya pernah tinggal bertahun-tahun di daerah Rawamangun. Begitu esoknya saya akan pindah ke daerah Cakung, saya lihat benar-benar tiap sudut rumah. Saya ingat beberapa kali mengukur tinggi badan dan tanda spidolnya masih ada di dinding.Saya ingat sepanjang ruang tempat berlari-larian, membuat tenda di dalam rumah, juga berseluncuran di tangga hingga dimarahi orangtua.

Lalu bagaimana dengan meninggalkan orang-orang yang sudah lama ada bahkan tanpa disadari tiba-tiba ingatan menganggapnya sebagai hal yang sudah semestinya? Secara mendadak pergi meninggalkan. Tetiba kau terlahir dengan orang-orang yang sudah ada di sekitarmu, berjalan beriringan, bergantung pada mereka, kemudian mau tidak mau kau harus pergi meninggalkan mereka karena kau “harus” hidup bersama dengan orang lain yang bahkan baru muncul dalam hidupmu.

Menurut saya ini sebuah hal yang kontradiktif. Bertambahnya anggota baru dalam keluarga, secara kasat mata perhitungannya menambah hal yang menyenangkan, bertambah ramai. Seperti seorang kakak yang tadinya bermain-main sendiri, kemudian lahir adiknya, lalu adiknya lagi, lalu adiknya lagi. Rumah jadi ramai.

Mengapa jadi kontradiktif?

Apa yang buat kedua status itu berbeda? Sesuatu yang mungkin masih terasa abstrak bagi saya.

Makin mendekati, entah kenapa kesedihan yang makin ada.

“Yah, nanti udah ngga bisa pergi bareng lagi deh sekeluarga”

“Sini ngumpul. Ntar lo udah ngga bisa ngumpul-ngumpul lagi bareng sama kita”

Sungguh. Meninggalkan sarang itu berat. 

Tags: dailylife

Setiap berangkat-pulang sekolah, juga saat dijemput Papa dengan motor bebeknya, saya berpegangan erat pada tubuhnya yang besar. Memeluk dari belakang, lalu kepala bersandar pada punggungnya yang bidang. Entah karena mengantuk, mata saya perlahan terpejam, hampir tertidur. Papa lalu berseru sambil mengguncang-guncangkan tangan saya, “Heh jangan tidur! Nanti jatuh!” Saya pun langsung duduk tegap dengan mata yang mengerjap lalu sayu lagi.
Makin besar, saya membuat jarak dengan Papa. Bukan lagi anak kecil yang digendong ke tempat tidur saat tertidur di kursi. Bukan lagi yang menangis kencang sambil menggedor-gedor pintu kamar Papa Mama karena terbangun mimpi buruk. Tapi masih tetap sering bepergian berdua. Sekedar ke toko buku, pameran gadget, antar sana sini untuk daftar sekolah juga kerja. I really think that I have a bodyguard back then. Lol *ditamplek babeh*. But I call it special date. Tak lagi memeluk badannya yang besar. Hanya sesekali berpegangan ke sisi kanan kiri jaketnya. Tak juga bersandar ke punggungnya. Kepala saya juga mulai setinggi kepalanya.
***
Malam lalu, saya pulang kantor dengan pikiran semrawut. Banyak pikiran kalau orang bilang. Saya terdiam. Sampai Papa menjemput dan saya naik, masih terdiam. Sambil menundukkan kepala, saya bersandar lagi pada punggung Papa. Lalu teringat saat tinggi kepala masih setinggi punggungnya. Papa diam saja. Tak menggungahku untuk tak bersandar. Dia tahu.
Perlahan air mata menetes. Kapan lagi saya bisa seperti ini? Bersandar di punggung Papa hingga tertidur.

Setiap berangkat-pulang sekolah, juga saat dijemput Papa dengan motor bebeknya, saya berpegangan erat pada tubuhnya yang besar. Memeluk dari belakang, lalu kepala bersandar pada punggungnya yang bidang. Entah karena mengantuk, mata saya perlahan terpejam, hampir tertidur. Papa lalu berseru sambil mengguncang-guncangkan tangan saya,
“Heh jangan tidur! Nanti jatuh!” Saya pun langsung duduk tegap dengan mata yang mengerjap lalu sayu lagi.

Makin besar, saya membuat jarak dengan Papa. Bukan lagi anak kecil yang digendong ke tempat tidur saat tertidur di kursi. Bukan lagi yang menangis kencang sambil menggedor-gedor pintu kamar Papa Mama karena terbangun mimpi buruk. Tapi masih tetap sering bepergian berdua. Sekedar ke toko buku, pameran gadget, antar sana sini untuk daftar sekolah juga kerja. I really think that I have a bodyguard back then. Lol *ditamplek babeh*. But I call it special date. Tak lagi memeluk badannya yang besar. Hanya sesekali berpegangan ke sisi kanan kiri jaketnya. Tak juga bersandar ke punggungnya. Kepala saya juga mulai setinggi kepalanya.

***

Malam lalu, saya pulang kantor dengan pikiran semrawut. Banyak pikiran kalau orang bilang. Saya terdiam. Sampai Papa menjemput dan saya naik, masih terdiam. Sambil menundukkan kepala, saya bersandar lagi pada punggung Papa. Lalu teringat saat tinggi kepala masih setinggi punggungnya. Papa diam saja. Tak menggungahku untuk tak bersandar. Dia tahu.

Perlahan air mata menetes.
Kapan lagi saya bisa seperti ini?
Bersandar di punggung Papa hingga tertidur.

Tags: dailylife

  • R : pengen cepet selese sebenernya. tapi ga pengen cepet-cepet. masih takuut haha
  • A : haha. aku nyeremin ya.
  • R : bahaha. nyeremin ga ya. kasih tau ngga ya.
  • R : emang ga takut?
  • A : kata temen kantor, ini mental berbicara. ga hari ini ga besok atau tahun depan insyaAllah setiap orang pasti ada masanya. ya disiapin sebaik-baiknya. mirip kematian kan haha
  • R : ihiw. tapi sayangnya itu ga menjawab pertanyaan.
  • A : emang haha
  • R : terlalu diplomatis
  • A : jawaban diplomatis

Soal Interaksi

Seorang teman kantor pernah berkata

"Aku suka deh lihat wanita muslimah pake bajunya yang selayaknya seorang muslimah, rok dan kerudung panjang. Daripada wanita muslimah tapi bajunya ngetat, udah gitu pelukan sama cowo. Ih aku males banget. Mending ngga usah pake deh kerudungnya."

Itu sebuah pengingat lho.

Temanku itu seorang non islam dan saat ia berbicara seperti itu sedang memakai baju tanpa lengan dan pas badan. Well, saya tak mau mengomentari tentang caranya berpakaian, karena memang keyakinan kami berbeda.

Kalau mau secara jelas, mungkin perkataan teman saya tersebut bisa diartikan seperti ini:

“Kamu memilih Islam, ya pastinya harus ikut aturan yang ada. Termasuk itu cara berpakaian, termasuk cara berinteraksi dengan siapa saja.”

Mengenai cara berpakaian, saya juga masih belum setiap hari bisa pakai rok atau gamis panjang. Karena saya sering pakai moda transportasi Commuter Line dan harus berpacu dengan waktu, mengenakan blouse dan celana gombrong ke kantor akan lebih menyenangkan. Lebih mudah lari sana lari sini hehe. Tapi (dengan sambil menghela napas), saya masih mau usahakan pakai rok dan gamis itu setiap hari insyaAllah*antara berat hati sama harus itu beda tipis wahaha*

Lalu, hal yang mau saya bahas selanjutnya ini menurut saya cukup menarik, yaitu: berinteraksi tanpa bersentuhan kulit dengan non mahram. Mungkin ini salah satu interaksi yang lumayan jarang dilakukan.

Sulitkah?

Saya ngga mau menggeneralisasikan ke semua orang ah. Mungkin sejatinya kata sifat itu dibuat bersamaan dengan kata relatif. Jangan maksa! Semua orang punya sistem diferensi yang berbeda satu sama lain.

Nah, mengenai itu, saya sudah mencobanya sampai sekarang. Buat saya sendiri, menurut saya sendiri, tidak ada masalah lho :) -maaf lho ga ada maksud lain. Maafkan jika ada terbesit pikiran lain. Tapi sungguh, saya hanya ingin berbagi di tulisan ini-

Seorang dosen senior pernah mengatakan bahwa psikologi jangan terbatas pada aturan agama, seperti tidak bersalaman tangan dengan klien bukan mahram. Yang namanya bertemu klien, harus membangun good report, salah satunya dengan berjabat tangan. Yah, Pak. Apalah arti berjabat tangan kalau interviewnya ga baik. Oke maaf, saya harus menolaknya.

Dari pengalaman saya bertemu orang banyak, memilih untuk tidak berjabat tangan, bersalaman dengan non mahram, bukan sesuatu yang buruk kok. Sungguh.

Pekerjaan saya sebagai seorang recruiter “memaksa” saya harus bertemu dengan orang baru hampir setiap harinya. Entah itu kandidat ataupun user. Mulai dari level staff sampai direktur. Lalu haruskah perlakuannya berbeda? Tidak. Sama saja. Mereka semua klien. Bukan berarti saya bisa mendongakkan kepala dan ogah bersalaman saat memberikan tes kepada para level staff, dan hormat sebungkuk-bungkuknya sambil berjabat tangan erat kepada user bertitel direktur.

Satu pengalaman yang cukup lucu menurut saya, saat saya beberapa kali meeting dengan direktur divisi lain untuk membahas kebutuhan karyawan di divisinya. Beliau seorang ekspatriat asal Inggris. Saat beliau menyodorkan tangan untuk bersalaman, saya menelungkupkan tangan salam ala none jakarta. Perlu waktu sekitar beberapa detik untuk menyadarkan beliau bahwa “this is my greeting style, Sir" dan beliau pun juga membalas salam dengan cara yang sama dengan saya. Bahkan saat berpisah, beliau mengajukan lebih dulu my-greeting-style itu.

Bisa kan?

Tak selamanya kita harus ikut arus lho. Haha oke, saya memang tipe rule-breaker (seru men!). Tapi selama kita punya anutan sendiri yang menurut kita baik, selama kita konsisten melakukannya, dan selama kita masih berperilaku sewajarnya, sopan, dan santun, saya kira tak akan ada orang yang merasa terganggu dengan prinsip kita tersebut. Justru yang saya rasa, mereka semakin sopan terhadap kita. Beberapa kali kenalan dengan orang dan saya melakukan salam yang sama, teman di sebelahnya berceletuk “bukan muhrim lo. Gimana sih”. Lalu kami pun tertawa.

Satu hal yang penting sih menurut saya. Bukan berarti dengan kita punya greeting style dan hal lain yang berbeda dari kebanyakan orang, kita harus merasa eksklusif lalu menutup diri. Oh dear, pantaslah kalau orang sekitar tak suka. Bersikaplah seperti biasa. Tertawalah saat orang lain juga tertawa. Menjawablah saat orang lain bertanya. Ramahlah terhadap siapapun yang ditemui. Apalagi kalau punya selera humor yang oke. Tentu bisa jadi nilai plus. Hidup itu udah susah jangan dibawa serius banget, malu sama tetangga sebelah #eh #apasih.

Celoteh Masa Lalu

Satu pertanyaan yang saya ajukan.

"Pernahkah terjadi saat di satu masa terasa jatuh, berurai air mata, keinginan untuk mengakhiri hidup, beradu jadi satu. Tapi kemudian di masa yang lain, saat mengingat kembali masa yang lalu, rasanya jauh berbeda, lebih menyenangkan, terasa lebih ringan, bahkan hingga bisa menertawakan apa yang dilakukan tempo lalu?".

Mungkin terasa lucu apa yang dilakukan di saat dulu. Mungkin terpikirkan kebodohan macam apa yang bisa jadi satu keputusan. Atau mungkin ya perjalanan hidup itu sendiri yang akan menjelaskan satu per satu.

Tersenyum dan tertawa atas masa lalu yang mungkin pedih bisa saja menandakan bahwa kehidupan saat ini jauh lebih baik. Mungkin selamanya tidak selalu sesuai keinginan diri. Tapi bahwa Allah memberikan apa yang dibutuhkan, bukan inginkan, atau menarik -ya, pernah belanja barang yang tidak butuhkan pada akhirnya terbuang saja kan?-. Mungkin perlu berjalan belak-belok hingga menemukan jalan yang lurus. Ya tapi siapa tahu di depan nanti ada jalan berliku lagi. Bersiap sajalah.

Mungkin pernah juga bertemu dengan orang-orang yang pada akhirnya sekarang berpisah. Bukan berarti mereka adalah orang yang salah. Ah, apalah definisi tentang salah. Mungkin perbedaan pikiran jalan hidup membuatnya tak bisa bersama. Perbedaan yang menjadi penghalang sepanjang waktu. Wajar di sebuah pertemuan pasti ada perpisahan. Mungkin akan lain cerita jika nanti dipertemukan lagi. Di surgaNya dalam ikatan persaudaraan.

“Mungkin kita hanya bertemu di persimpangan. Lalu berjalan sendiri-sendiri lagi”

Tersenyum dan tertawa juga mungkin menandakan tak ada penyesalan untuk bisa merasakan masa lalu. Karena hanya dengan masa lalu (entah milik diri sendiri dan orang lain), pembelajaran selalu akan terus berlanjut. Dan berterimakasihlah karena sahabat-sahabat yang terus menemani, berjalan, beriringan. Mungkin tak selamanya, tapi setidaknya dengan kehadiran mereka di saat yang tepat, bermakna lebih dari cukup.

Angin tipis berdesir dalam hati.
Terulang masa lalu.
Lalu tersenyum.
Alhamdulillah.

 

Tags: dailylife

Lowongnya gerbong kereta hanya ditemani suara rel dan roda yang beradu, selalu membawa lamunan. Tentangnya di luar sana. Berhimpitan, mendengar derai riuh orang-orang berkerumun di jalan-jalan. Baik-baik sajakah?
Lelah juga ada. Tapi seakan dia duduk manis di sebelah, terlihat menemani obrolan ringan penumpang lain, tak ingin mengganggu.
Satu dua stasiun terlewati.
Makin ramai.
Makin dekat.
Adzan isya perlahan terngiang. Terdengar tipis dari dalam kereta. Terasa dekat di telinga. 
Sudah dipanggil.
Dan aku pun sampai.
Dan perjalanan masih jauh.
Selamat malam.

Lowongnya gerbong kereta hanya ditemani suara rel dan roda yang beradu, selalu membawa lamunan. Tentangnya di luar sana. Berhimpitan, mendengar derai riuh orang-orang berkerumun di jalan-jalan. Baik-baik sajakah?

Lelah juga ada. Tapi seakan dia duduk manis di sebelah, terlihat menemani obrolan ringan penumpang lain, tak ingin mengganggu.

Satu dua stasiun terlewati.
Makin ramai.
Makin dekat.

Adzan isya perlahan terngiang. Terdengar tipis dari dalam kereta. Terasa dekat di telinga.
Sudah dipanggil.

Dan aku pun sampai.
Dan perjalanan masih jauh.
Selamat malam.

Tags: dailylife