Menikah!

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Ba’da tahmid dan tasbih.


Finally, I’m a married woman, guys. Haha.

Kenapaaa? Ada apaa? Kok tiba-tiba udah nikah aje luu?
Prosesnya cepat, menurut saya cepat. Berulang kali saya berusaha menyesuaikan, mengganti, mengubah rencana hidup beberapa tahun ke depan dalam waktu yang sangat singkat. Like a flash, like a bouraq (lebay sih kalau yang ini). Sungguh, manusia hanya bisa merencanakan, dan Allah yang punya keputusan pastinya. Tapi tak ada penyesalan untuk bisa merasakan hal itu. Alhamdulillah.

Saya bertemu dengannya di salah satu lembaga nonprofit bernama Syamsi Dhuha Foundation (SDF) di bulan Maret 2013. Waktu itu saya datang ke sana karena menghadiri ajakan teman sekampus, sebut saja A, yang jadi volunteer di lembaga tersebut. Katanya sih mereka lagi mau mengadakan satu acara besar tentang lupus, dan saya diminta untuk ikut bantu membuat poster informasi di acara tersebut. Singkat cerita, saya bekerja tidak sendirian, tapi ada 4 orang lain di satu tim saya, yaitu tim pameran. Salah satunya si akhi ini *malu*.

For the first time, saya yang memang orangnya super cuek, ya biasa aja. Kenalan sekilas, lalu lanjut mengerjakan tugas yang lagi asik saya pantengin di depan laptop. Saya ngga tahu kalau ternyata pertemuan tersebut menimbulkan rasa dari mata ke hati *geer lu!*

Sekitar 1 minggu setelah kenalan super singkat, kira-kira 5 detik lah ya, saya dapet kabar menghebohkan bin shocking sodaa. Si temen saya A itu menanyakan kepada saya tentang kesediaan bertaaruf. Katanya sih mau ada yang ngajak saya taaruf. Ah men! Di saat kepala dan hati saat itu yang kalut marut tak ada yang lain selain skripsi tercinta yang ngga kelar-kelar, akhirnya saya menolak bertaaruf saat itu juga. Saya juga masih punya banyak pertimbangan untuk melanjutkan studi dan karir terlebih dahulu. Saya juga ngga mau menggantungkan seseorang karena terlalu lama menjawab tawarannya. Digantung ga enak cyin! Pada saat itu saya juga belum tau siapa orang yang mengajak saya bertaaruf. Ini orang darimana asalnya bisa ujug-ujug kenal saya, ini orang kenapa juga bisa berani langsung mau taaruf sama saya, ini orang siapa deh.

Yaa meskipun menolak bertaaruf, diam-diam saya juga penasaran setengah idup. Dan satu-satunya orang yang saya “curigai” sebagai oknumnya adalah si akhi yang berkenalan waktu itu. Tapi teteup sih, skripsi mengalihkan duniaku (waktu itu hahaha).

Nah, lalu waktu berjalan. Sampai acara besar SDF hampir tiba, 3 hari saya habiskan di kantor dan tempat acara. Pastinya deh ya saya ketemu terus deh ni sama orang-orang di 1 tim kerja pameran, which means ketemu si akhi. Setelah dilihat-lihat gerak-geriknya, tingkah lakunya *eh bukan maksudnya merhatiin dari atas kepala sampe kaki berlama-lama ya -_-*, saya pikir akhi ini oke juga. Santun, sholatnya tepat waktu dan di masjid, dapat diandalkan, siap sedia jika minta bantuan, makannya juga teratur *lah*. Tapi saya tetap berusaha untuk jaga hati, jangaaan sampe ada setan diem-diem merasuk ke jiwa raga *HOAAH lalu jadi jin tomang* *apasi* *lalu si akhi ilfil liat gue begini*

Oke lalu acara selesai.

Setelah itu mungkin interaksi kami jadi lebih sering dari sebelumnya. Saya sih menganggapnya sebagai senior yang lumayan tau banyak soal SDF daripada saya. Dan berhubung si akhi ini ketua tim saya, dan saya sering ngga bisa dateng rapat besar, jadi saya sering tanya ke grup WA tim pameran dan yang sering bales ya si akhi.

Waktu itu pula, si akhi lagi pasang foto avatar doi di gunung. Karena saya orangnya gampang terenyuh dengan gunung dan pemandangan, jadi saya iseng tanya-tanya soal latar belakang si foto. Ternyata si akhi anak gunung! Ngga terlalu sih, tapi setidaknya doi suka jalan-jalan! Lalu mulai runtuhlah satu persatu hati saya haha.

Dari obrolan yang ada saya melihatnya si akhi adalah orang yang humoris dan asik banget diajak diskusi ini itu. Semua nyambung. Makin runtuhlah saya.

Mungkin di situ momen “klik” nya. Saya bisa dibilang sangat jaraaaaaaang sekali bisa secepat itu bisa klik dengan orang lain, apalagi lawan jenis. Biasanya kalau saya merasa ngga cocok dengan obrolan yang ada, saya tinggalin aja gitu, sampai orangnya bosen sendiri. Hahaha. Tapi yang ini ngga. Membahas berbagai topik rasanya ngga ada bosennya. Duh. Ngeri juga sih sebenernya. Saya takut ngga bisa jaga hati dan mungkin malah jadi negatif. Akhirnya saya berusaha sekali untuk berkomunikasi di saat yang penting.

And the day was came.
Terhitung sejak 3 bulan bertemu, akhirnya si akhi menawarkan kembali untuk bertaaruf dengan saya. Kali ini mediatornya berbeda, salah satu ibu yang ada di tim kami. Awalnya si ibu tidak memberitahu kepada saya siapa orang yang meminta saya untuk bertaaruf. Dan setelah saya mengiyakan untuk bertaaruf, beliau sanpaikan siapa orang tersebut. Benarlah si akhi ini.

Sejujurnya setelah pertama kali mendapat tawaran taaruf, saya jadi berpikir banyak tentang menikah. Pertanyaan paling eksis muncul adalah: “Sudah siapkah saya untuk menikah?”. Lalu apa saya sudah berbuat maksimal untuk orangtua saya? karena selanjutnya kewajiban saya paling atas setelah Allah dan RasulNya berpindah ke suami. Bagaimana dengan adik-adik saya nanti? Apa saya sudah siap menjadi istri dan ibu yang baik nanti? Apa saya sudah siap dengan segala kehidupan manis pahit pernikahan nanti? Dan sederet pertanyaan lainnya.

Memang saat-saat seperti itu paling baik dilaporkan langsung kepada yang Maha Pembolak-balik Hati. Yang Paling Tahu apa isi hati manusia, yang paling baik untuk manusia. Jadilah akhirnya Allah memberikan kemantapan hati untuk siap bertaaruf.

Ohya. Sejujurnya waktu pertama kali mendapatkan tawaran untuk taaruf dengan “curigaan si oknum akhi”, saya sempat mikir berat hati untuk “melepaskan” orang berkualitas oke semacam doi. Mana ada lagi kali lelaki sholeh yang mau ngelamar anak begajulan macem ini, petantang petenteng macem kuli, pikir saya waktu itu gitu hahaaha. Tapi seorang teman pernah berujar, kalau jodoh mah ngga kemana. Dan itu memang pepatah lama yang ngga ada matinye! Buktinya dalam waktu 3 bulan, si akhi masih setia menunggu saya *apa emang ga dapet-dapet calon lain? haha* dan kembali menawarkan pada saya.

Hingga pada bulan November, ia dan keluarganya kemudian datang ke rumah dan secara resmi melamar saya. 

Sekarang sudah terhitung lebih dari 2 minggu kami menikah di tanggal 12 April 2014. Mungkin prosesnya lebih lama dibanding proses taaruf kebanyakan yang dalam 3 bulan sejak bertemu sudah resmi memegang buku nikah. Tapi secara keseluruhan, proses yang kami jalani berjalan dengan sangat mulus. Mungkin beberapa kendala dan hal yang tidak mengenakkan tetap ada, tapi tak begitu mempengaruhi.
Buat saya selama dua minggu menjalani hari-hari sebagai seorang istri, rasanya campur aduk sekali. Saya terbiasa dengan perlakuan over protective dari ayah saya, seperti dihubungi tiap waktu menanyakan dimana saya berada, diperlakukan layaknya anak gadis teristimewa. Yang sekarang, hampir sama, tapi berbeda. Suatu perbedaan yang mungkin sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata, tetapi menyenangkan.

Bocah setengah macho yang terbiasa pergi kemana-mana sendiri dan masa bodoh dengan dirinya ini, sekarang jadi “lemah”. Sulitnya membiasakan diri membuat teh manis atau jahe hangat setiap pagi dan atau ia pulang kantor. Sampai beberapa kali dimarahi mama karena lupa menemani suami makan, sementara saya asik di kamar bermain laptop atau handphone. Beberapa kali diingatkan teman untuk memoles wajah dengan sedikit kosmetik biar ngga terlalu polos. Itu sulit sebenarnya. Saya yang jadi “lemah” karena setiap berjalan beringingan harus digenggam tangannya yang hangat, lalu hati saya berulang kali berdesir lembut. Saya yang jadi “lemah” karena memandang teduh wajahnya terlalu lama. Saya yang jadi “lemah” karena jantung berdegup kencang setiap ia pulang dari bekerja, terlalu rindu, dan kembali malu melihat wajahnya. Saya yang jadi “lemah” setiap kali mendengar alunan surat Al-Mulk yang ia bacakan setiap akan tidur. Dan senyum saya yang jadi selalu merekah setiap melihat ia ada di sisi setiap bangun pagi.

Kalau kata seorang teman, sehabis menikah itu senangnya hanya 1%. 99% nya lagi senaaaaang sekalii. Kalau kata penghulu nikah saya, menikah itu nikmatnya hanya 1%, 99% nya lagi nikmaaaat sekalii. Well, I agree with that.

Teruntuk Tuan Arief Rachman Saputra,
Terima kasih sudah hadir. Sungguh, kasih sayang Allah semoga selalu bersama kita.

image

Tags: nikah!

Meninggalkan Sarang

Bagaimana sih rasanya meninggalkan tempat yang sudah nyaman kita tinggali selama bertahun-tahun? Saya pernah tinggal bertahun-tahun di daerah Rawamangun. Begitu esoknya saya akan pindah ke daerah Cakung, saya lihat benar-benar tiap sudut rumah. Saya ingat beberapa kali mengukur tinggi badan dan tanda spidolnya masih ada di dinding.Saya ingat sepanjang ruang tempat berlari-larian, membuat tenda di dalam rumah, juga berseluncuran di tangga hingga dimarahi orangtua.

Lalu bagaimana dengan meninggalkan orang-orang yang sudah lama ada bahkan tanpa disadari tiba-tiba ingatan menganggapnya sebagai hal yang sudah semestinya? Secara mendadak pergi meninggalkan. Tetiba kau terlahir dengan orang-orang yang sudah ada di sekitarmu, berjalan beriringan, bergantung pada mereka, kemudian mau tidak mau kau harus pergi meninggalkan mereka karena kau “harus” hidup bersama dengan orang lain yang bahkan baru muncul dalam hidupmu.

Menurut saya ini sebuah hal yang kontradiktif. Bertambahnya anggota baru dalam keluarga, secara kasat mata perhitungannya menambah hal yang menyenangkan, bertambah ramai. Seperti seorang kakak yang tadinya bermain-main sendiri, kemudian lahir adiknya, lalu adiknya lagi, lalu adiknya lagi. Rumah jadi ramai.

Mengapa jadi kontradiktif?

Apa yang buat kedua status itu berbeda? Sesuatu yang mungkin masih terasa abstrak bagi saya.

Makin mendekati, entah kenapa kesedihan yang makin ada.

“Yah, nanti udah ngga bisa pergi bareng lagi deh sekeluarga”

“Sini ngumpul. Ntar lo udah ngga bisa ngumpul-ngumpul lagi bareng sama kita”

Sungguh. Meninggalkan sarang itu berat. 

Tags: dailylife

Setiap berangkat-pulang sekolah, juga saat dijemput Papa dengan motor bebeknya, saya berpegangan erat pada tubuhnya yang besar. Memeluk dari belakang, lalu kepala bersandar pada punggungnya yang bidang. Entah karena mengantuk, mata saya perlahan terpejam, hampir tertidur. Papa lalu berseru sambil mengguncang-guncangkan tangan saya, “Heh jangan tidur! Nanti jatuh!” Saya pun langsung duduk tegap dengan mata yang mengerjap lalu sayu lagi.
Makin besar, saya membuat jarak dengan Papa. Bukan lagi anak kecil yang digendong ke tempat tidur saat tertidur di kursi. Bukan lagi yang menangis kencang sambil menggedor-gedor pintu kamar Papa Mama karena terbangun mimpi buruk. Tapi masih tetap sering bepergian berdua. Sekedar ke toko buku, pameran gadget, antar sana sini untuk daftar sekolah juga kerja. I really think that I have a bodyguard back then. Lol *ditamplek babeh*. But I call it special date. Tak lagi memeluk badannya yang besar. Hanya sesekali berpegangan ke sisi kanan kiri jaketnya. Tak juga bersandar ke punggungnya. Kepala saya juga mulai setinggi kepalanya.
***
Malam lalu, saya pulang kantor dengan pikiran semrawut. Banyak pikiran kalau orang bilang. Saya terdiam. Sampai Papa menjemput dan saya naik, masih terdiam. Sambil menundukkan kepala, saya bersandar lagi pada punggung Papa. Lalu teringat saat tinggi kepala masih setinggi punggungnya. Papa diam saja. Tak menggungahku untuk tak bersandar. Dia tahu.
Perlahan air mata menetes. Kapan lagi saya bisa seperti ini? Bersandar di punggung Papa hingga tertidur.

Setiap berangkat-pulang sekolah, juga saat dijemput Papa dengan motor bebeknya, saya berpegangan erat pada tubuhnya yang besar. Memeluk dari belakang, lalu kepala bersandar pada punggungnya yang bidang. Entah karena mengantuk, mata saya perlahan terpejam, hampir tertidur. Papa lalu berseru sambil mengguncang-guncangkan tangan saya,
“Heh jangan tidur! Nanti jatuh!” Saya pun langsung duduk tegap dengan mata yang mengerjap lalu sayu lagi.

Makin besar, saya membuat jarak dengan Papa. Bukan lagi anak kecil yang digendong ke tempat tidur saat tertidur di kursi. Bukan lagi yang menangis kencang sambil menggedor-gedor pintu kamar Papa Mama karena terbangun mimpi buruk. Tapi masih tetap sering bepergian berdua. Sekedar ke toko buku, pameran gadget, antar sana sini untuk daftar sekolah juga kerja. I really think that I have a bodyguard back then. Lol *ditamplek babeh*. But I call it special date. Tak lagi memeluk badannya yang besar. Hanya sesekali berpegangan ke sisi kanan kiri jaketnya. Tak juga bersandar ke punggungnya. Kepala saya juga mulai setinggi kepalanya.

***

Malam lalu, saya pulang kantor dengan pikiran semrawut. Banyak pikiran kalau orang bilang. Saya terdiam. Sampai Papa menjemput dan saya naik, masih terdiam. Sambil menundukkan kepala, saya bersandar lagi pada punggung Papa. Lalu teringat saat tinggi kepala masih setinggi punggungnya. Papa diam saja. Tak menggungahku untuk tak bersandar. Dia tahu.

Perlahan air mata menetes.
Kapan lagi saya bisa seperti ini?
Bersandar di punggung Papa hingga tertidur.

Tags: dailylife

  • R : pengen cepet selese sebenernya. tapi ga pengen cepet-cepet. masih takuut haha
  • A : haha. aku nyeremin ya.
  • R : bahaha. nyeremin ga ya. kasih tau ngga ya.
  • R : emang ga takut?
  • A : kata temen kantor, ini mental berbicara. ga hari ini ga besok atau tahun depan insyaAllah setiap orang pasti ada masanya. ya disiapin sebaik-baiknya. mirip kematian kan haha
  • R : ihiw. tapi sayangnya itu ga menjawab pertanyaan.
  • A : emang haha
  • R : terlalu diplomatis
  • A : jawaban diplomatis

Soal Interaksi

Seorang teman kantor pernah berkata

"Aku suka deh lihat wanita muslimah pake bajunya yang selayaknya seorang muslimah, rok dan kerudung panjang. Daripada wanita muslimah tapi bajunya ngetat, udah gitu pelukan sama cowo. Ih aku males banget. Mending ngga usah pake deh kerudungnya."

Itu sebuah pengingat lho.

Temanku itu seorang non islam dan saat ia berbicara seperti itu sedang memakai baju tanpa lengan dan pas badan. Well, saya tak mau mengomentari tentang caranya berpakaian, karena memang keyakinan kami berbeda.

Kalau mau secara jelas, mungkin perkataan teman saya tersebut bisa diartikan seperti ini:

“Kamu memilih Islam, ya pastinya harus ikut aturan yang ada. Termasuk itu cara berpakaian, termasuk cara berinteraksi dengan siapa saja.”

Mengenai cara berpakaian, saya juga masih belum setiap hari bisa pakai rok atau gamis panjang. Karena saya sering pakai moda transportasi Commuter Line dan harus berpacu dengan waktu, mengenakan blouse dan celana gombrong ke kantor akan lebih menyenangkan. Lebih mudah lari sana lari sini hehe. Tapi (dengan sambil menghela napas), saya masih mau usahakan pakai rok dan gamis itu setiap hari insyaAllah*antara berat hati sama harus itu beda tipis wahaha*

Lalu, hal yang mau saya bahas selanjutnya ini menurut saya cukup menarik, yaitu: berinteraksi tanpa bersentuhan kulit dengan non mahram. Mungkin ini salah satu interaksi yang lumayan jarang dilakukan.

Sulitkah?

Saya ngga mau menggeneralisasikan ke semua orang ah. Mungkin sejatinya kata sifat itu dibuat bersamaan dengan kata relatif. Jangan maksa! Semua orang punya sistem diferensi yang berbeda satu sama lain.

Nah, mengenai itu, saya sudah mencobanya sampai sekarang. Buat saya sendiri, menurut saya sendiri, tidak ada masalah lho :) -maaf lho ga ada maksud lain. Maafkan jika ada terbesit pikiran lain. Tapi sungguh, saya hanya ingin berbagi di tulisan ini-

Seorang dosen senior pernah mengatakan bahwa psikologi jangan terbatas pada aturan agama, seperti tidak bersalaman tangan dengan klien bukan mahram. Yang namanya bertemu klien, harus membangun good report, salah satunya dengan berjabat tangan. Yah, Pak. Apalah arti berjabat tangan kalau interviewnya ga baik. Oke maaf, saya harus menolaknya.

Dari pengalaman saya bertemu orang banyak, memilih untuk tidak berjabat tangan, bersalaman dengan non mahram, bukan sesuatu yang buruk kok. Sungguh.

Pekerjaan saya sebagai seorang recruiter “memaksa” saya harus bertemu dengan orang baru hampir setiap harinya. Entah itu kandidat ataupun user. Mulai dari level staff sampai direktur. Lalu haruskah perlakuannya berbeda? Tidak. Sama saja. Mereka semua klien. Bukan berarti saya bisa mendongakkan kepala dan ogah bersalaman saat memberikan tes kepada para level staff, dan hormat sebungkuk-bungkuknya sambil berjabat tangan erat kepada user bertitel direktur.

Satu pengalaman yang cukup lucu menurut saya, saat saya beberapa kali meeting dengan direktur divisi lain untuk membahas kebutuhan karyawan di divisinya. Beliau seorang ekspatriat asal Inggris. Saat beliau menyodorkan tangan untuk bersalaman, saya menelungkupkan tangan salam ala none jakarta. Perlu waktu sekitar beberapa detik untuk menyadarkan beliau bahwa “this is my greeting style, Sir" dan beliau pun juga membalas salam dengan cara yang sama dengan saya. Bahkan saat berpisah, beliau mengajukan lebih dulu my-greeting-style itu.

Bisa kan?

Tak selamanya kita harus ikut arus lho. Haha oke, saya memang tipe rule-breaker (seru men!). Tapi selama kita punya anutan sendiri yang menurut kita baik, selama kita konsisten melakukannya, dan selama kita masih berperilaku sewajarnya, sopan, dan santun, saya kira tak akan ada orang yang merasa terganggu dengan prinsip kita tersebut. Justru yang saya rasa, mereka semakin sopan terhadap kita. Beberapa kali kenalan dengan orang dan saya melakukan salam yang sama, teman di sebelahnya berceletuk “bukan muhrim lo. Gimana sih”. Lalu kami pun tertawa.

Satu hal yang penting sih menurut saya. Bukan berarti dengan kita punya greeting style dan hal lain yang berbeda dari kebanyakan orang, kita harus merasa eksklusif lalu menutup diri. Oh dear, pantaslah kalau orang sekitar tak suka. Bersikaplah seperti biasa. Tertawalah saat orang lain juga tertawa. Menjawablah saat orang lain bertanya. Ramahlah terhadap siapapun yang ditemui. Apalagi kalau punya selera humor yang oke. Tentu bisa jadi nilai plus. Hidup itu udah susah jangan dibawa serius banget, malu sama tetangga sebelah #eh #apasih.

Celoteh Masa Lalu

Satu pertanyaan yang saya ajukan.

"Pernahkah terjadi saat di satu masa terasa jatuh, berurai air mata, keinginan untuk mengakhiri hidup, beradu jadi satu. Tapi kemudian di masa yang lain, saat mengingat kembali masa yang lalu, rasanya jauh berbeda, lebih menyenangkan, terasa lebih ringan, bahkan hingga bisa menertawakan apa yang dilakukan tempo lalu?".

Mungkin terasa lucu apa yang dilakukan di saat dulu. Mungkin terpikirkan kebodohan macam apa yang bisa jadi satu keputusan. Atau mungkin ya perjalanan hidup itu sendiri yang akan menjelaskan satu per satu.

Tersenyum dan tertawa atas masa lalu yang mungkin pedih bisa saja menandakan bahwa kehidupan saat ini jauh lebih baik. Mungkin selamanya tidak selalu sesuai keinginan diri. Tapi bahwa Allah memberikan apa yang dibutuhkan, bukan inginkan, atau menarik -ya, pernah belanja barang yang tidak butuhkan pada akhirnya terbuang saja kan?-. Mungkin perlu berjalan belak-belok hingga menemukan jalan yang lurus. Ya tapi siapa tahu di depan nanti ada jalan berliku lagi. Bersiap sajalah.

Mungkin pernah juga bertemu dengan orang-orang yang pada akhirnya sekarang berpisah. Bukan berarti mereka adalah orang yang salah. Ah, apalah definisi tentang salah. Mungkin perbedaan pikiran jalan hidup membuatnya tak bisa bersama. Perbedaan yang menjadi penghalang sepanjang waktu. Wajar di sebuah pertemuan pasti ada perpisahan. Mungkin akan lain cerita jika nanti dipertemukan lagi. Di surgaNya dalam ikatan persaudaraan.

“Mungkin kita hanya bertemu di persimpangan. Lalu berjalan sendiri-sendiri lagi”

Tersenyum dan tertawa juga mungkin menandakan tak ada penyesalan untuk bisa merasakan masa lalu. Karena hanya dengan masa lalu (entah milik diri sendiri dan orang lain), pembelajaran selalu akan terus berlanjut. Dan berterimakasihlah karena sahabat-sahabat yang terus menemani, berjalan, beriringan. Mungkin tak selamanya, tapi setidaknya dengan kehadiran mereka di saat yang tepat, bermakna lebih dari cukup.

Angin tipis berdesir dalam hati.
Terulang masa lalu.
Lalu tersenyum.
Alhamdulillah.

 

Tags: dailylife

Lowongnya gerbong kereta hanya ditemani suara rel dan roda yang beradu, selalu membawa lamunan. Tentangnya di luar sana. Berhimpitan, mendengar derai riuh orang-orang berkerumun di jalan-jalan. Baik-baik sajakah?
Lelah juga ada. Tapi seakan dia duduk manis di sebelah, terlihat menemani obrolan ringan penumpang lain, tak ingin mengganggu.
Satu dua stasiun terlewati.
Makin ramai.
Makin dekat.
Adzan isya perlahan terngiang. Terdengar tipis dari dalam kereta. Terasa dekat di telinga. 
Sudah dipanggil.
Dan aku pun sampai.
Dan perjalanan masih jauh.
Selamat malam.

Lowongnya gerbong kereta hanya ditemani suara rel dan roda yang beradu, selalu membawa lamunan. Tentangnya di luar sana. Berhimpitan, mendengar derai riuh orang-orang berkerumun di jalan-jalan. Baik-baik sajakah?

Lelah juga ada. Tapi seakan dia duduk manis di sebelah, terlihat menemani obrolan ringan penumpang lain, tak ingin mengganggu.

Satu dua stasiun terlewati.
Makin ramai.
Makin dekat.

Adzan isya perlahan terngiang. Terdengar tipis dari dalam kereta. Terasa dekat di telinga.
Sudah dipanggil.

Dan aku pun sampai.
Dan perjalanan masih jauh.
Selamat malam.

Tags: dailylife

Nabi Nuh a.s belum tahu banjir akan datang ketika baginda diperintahkan untuk membuat kapal besar dan diketawakan pula oleh kaumnya.
Nabi Ibrahim a.s belum tahu akan bahwa ada binatang sembelihan lain yang tersedia menggantikan Nabi Ismail a.s ketika pisau nyaris memenggal buah hatinya.
Nabi Musa a.s belum tahu laut akan terbelah saat dia diperintah memukul tongkatnya.
Rasulullah s.a.w pun belum tahu kalau Madinah adalah kota tersebarnya dakwah yang dibawanya saat baginda diperintahkan berhijrah.
Yang mereka tahu adalah bahwa mereka harus patuh kepada perintah Allah dan tanpa berhenti berharap yang terbaik. Ternyata di sebalik apa
yang kita tak tahu, Allah telah menyiapkan ‘surprise’ saat kita menunaikan perintahNya.
Biasanya Tangan-Tangan Allah bekerja di saat-saat terakhir dalam setiap usaha hambaNya.
So, never give up, make better for the best.
Walaupun hasil yang kita usahakan jauh dari harapan malah lebih menyakitkan pula, jangan kita berkecil hati karena Allah mencintai kita dengan cara-cara yang kita benci. Tetap bersangka baik kepada Allah walau apapun yang terjadi.

Allah berfirman,

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
QS Al-Baqarah 2:216

Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

*copy paste from unknown*

Tags: tausyiah

Mungkin ini yang Allah maksud dengan “mengganti dengan yang terbaik”

Allah memang tak pernah berdusta.
Bahkan senyum terus terkembang di pipi dari hari ke hari.
Dan ketenangan menyelimuti.
Serta keyakinan yang tertanam makin ke dalam.

Terbaik menurut Allah, pasti terbaik bagimu.
Pasti.

Maka,
bergembiralah.

Tags: dailylife

Check out my design portfolio and call me for order! :D
rachmah(dot)fitrie(at)yahoo(dot)co(dot)id
0856 8080 650 (SMS or WA)

Keluar dari Zona Nyaman

Wah lama banget ngga ngetik tulisan panjang di blog. Oke, saya akan coba mereview beberapa hal (ga penting) tapi wah buat saya.
As a fresh graduate apa sih yang biasanya dilakukan? Yeaa what else? Ngelamar kerjaan lah ya pastinya. Akhirnya setelah hampir 8 bulan menikmati kerjaan di rumah yang santainya subhanallah, dapetlah kerjaan di sebuah perusahaan retail besar (please don’t make me mention the company name! haha).

Yak. Respon saya begitu masuk dan menjalani seminggu bekerja…… JRENG. Super kaget dan ngga ngerti lagi apa yang saya lakukan di sini. Bangun pagi habis sholat langsung mandi dan bergegas ke kantor. Tapi saya berterimakasih sekali dengan ayah saya yang mau mengantarkan saya ke stasiun tebet via motor dan sisa perjalanan saya jalani hanya selama setengah jam saja. Yey! Padahal kalau secara total berangkat sendiri, mungkin bisa sampai 2 jam tua di jalan mulai dari naik metro mini, kereta dan transitnya, juga bus patas. Huhu perjuangan sekali.

Kemudian masa penolakan pun muncul. Saya sudah hampir 2 tahun hidup dengan jadwal yang sesuka saya, lalu dihadapkan dengan jadwal rutin yang padat, jelas super kaget. Saya hampir saja memutuskan untuk mengundurkan diri dari kantor dan berniat untuk melanjutkan saja perkerjaan lepas desain grafis. Mengerjakan apa yang disuka, menyenangkan, tingkat stress rendah, selesai. Atau mungkin saya juga termasuk dalam tipe orang pleghmatis yang lebih memilih menghindari konflik dan tenang berada di kedamaian.

Saya sempat ditentang banyak orang untuk keluar dari pekerjaan.
“Yaudahlaah tahan dulu baru juga seminggu.”
“Kamu kan ngelamar di sini buat kerja kan bukan buat resign?”
“Ngumpulin modal dulu deh buat usaha nanti baru kalau sudah terkumpul banyak, baru mulai usaha sendiri”
“Cari pengalaman dulu lah di kantor kayak apa”
dst dll dsb.

Konflik macam ini berat sih. Bayangkan saja, dipaksa melakukan apa yang ngga disuka dalam waktu yang lama. Meskipun dapat honor yang lumayan banget untuk seorang pemula. Well, money can’t buy happiness, rite? Tapi setelah dapat saran dari sana sini dan tentunya permintaan dari orang tua, mari dicoba bertahan!
“Kalau banyak orang bilang apapun yang orangtua bilang itu pasti benar, ya begitulah adanya”
“Aku pernah bikin usaha sendiri, dan awalnya semangat. Tapi begitu 4 bulan setelahnya bosan, bingung mau ngapain.”
“Kamu kan baru freshgrad. Bagusnya sih ada pengalaman kerja dulu beberapa tahun lah. Karena misalkan nanti setelah lama kamu ga kerja trus pengen kerja lagi dan perusahaan lihat cv kamu sempet kosong beberapa tahun setelah lulus, itu akan dipertanyakan nantinya”

Akhirnya setelah pertumpahan darah dan air mata, saya berusaha bertahan di kantor setidaknya untuk sebulan ke depan. Rekan-rekan kantor sampai bereaksi
“Alhamdulillah Rahma udah bisa ketawa”
“Rahma jangan pergi dulu, aku kan baru mengenal dirimu”
“Rahma udah rame lho Pak sekarang”
“Bukan rame, tapi Rahma jadi alay”
Oh well, I’ll take that as a compliment.

Hemm. Sukur-sukur bisa sampai 3 bulan habis masa percobaan di kantor. Selanjutnya? Saya ngga muluk-muluk ah. Lihat nanti saja seperti apa.

Doakan aku ya!

Tags: dailylife

((Bolehkah) Kuanggap Ini) Sebuah Surat (dari Hati (?))

Manakala hati menggeliat
mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku
Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada Maha Cinta menyatukan kita
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Lembah yang berwarna
Membentuk melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesunyian cinta
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati

Bunga Cinta Lestari - Cinta Sejati

semestanyaukhtiy:

winaster:

uuphii:

lumbalumba:

akhwataluswah:

ada banyak sekali alasan untuk memilih tidak pacaran,

yang manakah alasanmu?

Ngapa liat-liat?!

*ga kuat nahan tawa*

Sori, gue sibuk ngejar mimpi, kagak sempat pacaran. *benerin kacamata*

hahaha, >_<

menjaga hati untuk yang memiliki esoknya karena makna cinta itu lebih besar dari sekadar pacaran

Appreciate you life, masbro mbasis! Jangan berlelah-lelah galau ga jelas pake pacar-pacaran segala. haha

(via mbajeng)

November 2013 B/W Gallery

Infografik cerita Ramayana

Mau tau seputar wayang lainnya? Silakan cek di sini nih:
Komunitas Wayang Kunta Wijaya :D